Selasa, 03 Juli 2018
INDONESIA DIPERSIMPANGAN JALAN
Pemecatan Guru Terkait Pilkada Hoax
BEKASI (voa-islam.com), Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi menggelar mediasi antara Pihak Yayasan, Kepala Sekolah Sekolah Dasar Islam terpadu (SDIT) Darul Maza, Jatiasih, dengan Robiatul Adawiyah (28) guru SDIT tersebut yang merasa dipecat karena pilihan politiknya.
Seusai mediasi, Kepala Disdik Kota Bekasi Alie Fauzi menegaskan pemecatan Guru Robiatul, kata Alie hanyalah isu yang dibuat di masyarakat. Padahal tidak benar guru itu dipecat karena memilih pasangan calon Ridwan Kamil dan UU untuk calon Gubernur Jawa Barat.
“Yayasan tidak pernah memecat guru bersangkutan, Apalagi mereka masih membutuhkan guru bersangkutan untuk mengabdi di sekolah,” kata Alie kepada media, Selasa (3/7).
Namun, apabila Robiatul tidak ingin bergabung lagi dengan SDIT Darul Maza. Dinas Pendidikan akan memberikan solusi kepadanya jika yang bersangkutan masih ingin mengabdi di pendidikan.
“Apakah ingin sekolah negeri atau swasta dinas pendidikan akan memberikan solusi terbaik sepanjang guru ini akan mengabdi untuk dinas pendidikan,” katanya.
Ketika ditanya Robiatul apakah akan melanjutkan menjadi Guru SDIT Darul Maza. Beliau menegaskan untuk tidak akan kembali menjadi guru di SDIT tersebut. Apalagi Robiatul sudah bertemu dengan Ridwan Kamil dan dijanjikan menjadi staf di dunia pendidikan.
“Saya lebih baik mencari sekolah lain,” ungkapnya.
Diketahui Kasus tersebut bermula dari postingan facebook, Sabtu (28/6), Suami Andriyanto Putra Valora menulis dengan judul “Seorang Guru SDIT Darul Maza Bekasi Diberhentikan Dengan Tidak Hormat Hanya Lewat WA Group Karena Memilih Pasangan Ridwan Kamil dan UU untuk Jabar 1”.
Tulisan suami Robiatul tersebut langsung viral dan ramai diperbincangkan di dunia maya. Bahkan Ridwan Kamil pun merasa berempati dan menjemput Robiatul Adawiyah dari rumahnya pada, Sabtu (30/6).
Padahal menurut Fachrudin, Kepala Badan Usaha Pendidikan Darunnajat Maza masalah tersebut seharusnya sudah selesai dan tidak perlu diviralkan di dunia maya.
“Saya setelah menulis hal itu langsung meminta maaf di grup internal sekolah dan berharap Bu Robiah bisa tetap bersama Darul Maza,” ujarnya.
Permintaan maaf itu, kata Fachrudin dilakukan saat siang setelah pencoblosan berlangsung. Bukan itu saja, Ia juga menghubungi Robiatul Adawiyah membujuknya untuk tetap kembali mengajar.
“Karena saya pikir itu hanyalah kesalahpahaman antara saya dan Robiatul,” katanya.
Namun, ia baru mengetahui bahwa ada postingan Facebook suami Robiatul mengenai permasalahan di grup internal sekolah.
“Saya dan Ibu Rince kaget setelah melihat postingan facebook itu. Bahkan viral di dunia maya,” tandasnya.
Malamnya, permintaan maaf Fachrudin baru dijawab Robiatul dan ia meminta pihak yayasan datang ke rumahnya untuk berdamai. Besoknya, Jumat (29/6) antara kedua belah pihak berdamai. Andriyanto Putra, Sebagai suami Robiatul mengatakan bahwa telah memafkan Fachrudin.
“Keluarga besar Ibu Robiatul Adawiyah yang didampingi suami, orang tua, kakak dan adik yang semuanya pendidik menyambut baik dan memaafkan dengan seikhlas-ikhlasnya yang disampaikan oleh Ibu Robiatul Adawiyah sendiri, Bpk. Ust Eli Suhaeli (orang tua), dan Andriyanto (suami), insya Allah di mana pun nantinya Ibu Robiatul Adawiyah akan mengabdikan diri selaku pendidik dapat keberkahan dan kebahagiaan, aamiin,” terangnya.
Ia berharap dari pihak yayasan maupun pihak keluarga setelah islah ini tidak ada lagi permasalahan tambahan yang nantinya akan banyak dimanfaatkan oleh berbagai pihak.
“Alhamdulillah, setelah saling maaf-memaafkan lega rasanya. Semoga Yayasan Darunnajaat Maza bisa terus meningkatkan pelayanan dalam Pendidikan Islam dengan lebih baik lagi.Kita sama-sama jadikan pelajaran untuk kita semua atas kejadian ini,” ujarnya.
Sayangnya, setelah terjadi Ishlah. Ridwan Kamil mengundang mereka ke Bandung. Pertemuan tersebut dilaksanakan di Rumah Pemenangan Rindu, Jalan Cipaganti, Bandung , Minggu (1/7).
Ridwan Kamil pun berjanji membantu Robiatul mencari pekerjaan baru. Ia akan segera berkoordinasi dengan beberapa pihak di Bekasi untuk bisa memberi pekerjaan kepada Robiatul Adawiyah.
Menurut pengakuan Robiatul, ia dijemput langsung tim pemenangan dari rumahnya menuju Bandung. “Ya saya diundang langsung oleh Ridwan Kamil,” ujarnya saat ditemui di Dinas Pendidikan Kota Bekasi.
Mendengar pengakuan Robiatul, Dinas Pendidikan Alie Fauzi mengimbau agar para politisi untuk tidak mempolitisir masalah ini.
“Kita mengimbau agar pihak lain tidak mempolitisir persoalan ini demi menjaga situasi yang kondusif dan aman,” kata Ali.
Kendati demikian, Ali mengungkapkan pihaknya juga mempersiapkan sekolah lain sebagai tempat mengajar yang baru bagi Robiatul Adawiyah apabila dirinya memang menginginkan pindah ke sekolah lain.
Ia juga menambahkan bagi ada oknum-oknum calon paslon yang masuk ke dinas pendidikan akan ditegur. Apalagi jika ada yang mengarahkan untuk memilih paslon tertentu.
Untuk Fahrudin, kata Alie akan meminta Yayasan untuk memberikan sangsi secara personel.
“Yayasan harus memberikan teguran kepada personel sendiri karena ini menyangkut personel. Kecuali itu yayasan maka kami akan tegur," ujarnya.
Ia berharap permasalahan seperti ini tidak terjadi lagi karena menurutnya ini menyangkut visi misi sekolah.
“Bukan visi misi paslon. Saya kira dalam konteks ini masalah antara Darul Maza dan Robiatul sudah selesai,” pungkasnya. (bil/voa-islam)
Senin, 02 Juli 2018
Opini Menarik Menjelang Keruntuhan Rezim Jokowi
Mau marah atau malah berterimakasi dengan tulisan pengamat ini.
INI FAKTA yang Akan RONTOKKAN Jokowi di 2019
INI FAKTA yang Akan RONTOKKAN Jokowi di 2019
Kekuatan Joko Widodo di Pilpres 2019 akan melemah seiring dengan munculnya fakta-fakta terkait politik dan elektabilitas Jokowi.
Pengamat politik Tony Rosyid mengingatkan, selain gerakan #2019GantiPresiden yang semakin menguat, beberapa fakta yang muncul belakangan bisa melemahkan Istana dan Jokowi di Pemilu 2019.
Pengamat politik Tony Rosyid mengingatkan, selain gerakan #2019GantiPresiden yang semakin menguat, beberapa fakta yang muncul belakangan bisa melemahkan Istana dan Jokowi di Pemilu 2019.
"Fakta pertama, isu ekonomi. Rakyat merasakan hidup sulit. Setelah subsidi dicabuti, rakyat dikejar pajak, daya beli melemah, kehidupan dirasa makin susah. Ini membuat Istana dan Jokowi makin tersudut," beber Tony Rosyid.
Menurut Tony, fakta kedua, yang membuat Jokowi rontok adalah, banjirnya tenaga kasar dari China. Semakin dibantah, semakin jelas datanya. Semua orang ngomong buruh China. Bahkan, pihak imigrasi menemukan kampung China di hutan.
"Tak bisa ditutup-tutupi. Ternyata bukan hoax. Sudah puluhan ribu buruh China didatangkan. Dan terus mengalir deras, karena teken kontrak sudah dibuat bersamaan dengan ketergantungan hutang negara ke China yang semakin besar," ungkap Tony.
Fakta ketiga, menurut Tony, adanya ketidakadilan masalah hukum. Yakni, penangkapan sejumlah ulama dan aktivis tanpa proses hukum maupun proses hukum yang tidak adil. Utamanya, kasus Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab yang dijerat 17 kasus dalam waktu yang super singkat.
"Menjelang Pilpres 2019, satu persatu kasus Habib Rizieq mulai di-SP3-kan. Ada apa? Publik makin curiga, kok hukum begitu rapuh? Tak bisa disalahkan jika publik menduga, ada permainan. Tepatnya, ada intervensi. Hukum tak lagi independen," tanya Tony.
Fakta keempat yang membuat Jokowi rontok, kata Tony, adalah janji kampanye Jokowi. Di mana ada jejak digital terhadap 66 janji Jokowi. Satu persatu mulai diingat dan ditagih publik.
"Empat Fakta di atas yang terus menerus disuarakan dalam hashtag #2019GantiPresiden akan berpengaruh terhadap elektabilitas Jokowi. Jika elektabilitas Jokowi terus runtuh, maka secara otomatis mengancam empat pilar kekuasaan Istana. Empat pilar itu adalah partai koalisi, pemilik modal, media dan aparat hukum. Orang bilang oknum. Tepat sekali," pungkas Tony Rosyid
Ayo makin semangat #2019GantiPresiden
Opini salah seorang pemilik akun FB - MAHATHIR DAN ERDOGAN SEDANG MENUNGGU INDONESIA
Untuk Melengkapi Kekuatan Baru Dari "3 LION" Yang Akan Merubah Wajah Islam Dunia Di Masa Depan.
MAHATHIR - ERDOGAN - .........?
By : Yhuda Ibn Zaenal
Dunia hari ini sedang terjadi euforia yang begitu besar. Di samping euforiannya piala dunia Russian 2018. Euforia kemenangan di hadiahkan pada rakyat negeri Jiran malaysia dan rakyat Ottoman Turkey.
Kemanangan yang di sebut dengan "people power" ini, menjadi sorotan terhadap dunia. Khususnya bagi negara negara dengan penduduk muslim. Mungkin saya bisa menuliskan bahwa ini adalah kemenangan Islam juga.
Kabar kemenangan ini di sambut juga oleh masyarakat Indonesia yang pada beberapa waktu kedepan juga akan melaksanakan pemilihan umum/pergantian presiden. Dengan di dahului dengan pilkada serentak dan pileg.
Kemenangan Mahathir di awal awal tahun 2018 menjadi semangat baru. Yang langsung merombak serta membuat sistem yang strategis, untuk membenahi Malaysia. Dan di susul dengan kemenangan ERDOGAN pada pemilu di Turkey. Yang dengan itu, Erdogan akan memimpin Turkey 20 tahun kedepan.
Tahukah anda siapa yang paling bahagia menyambut kemenangan 2 singa itu? Tentu yang paling bahagia adalah rakyat Palestina, rakyat Suriah, dan negara negara muslim yang tertindas. Yang di fitnah, yang tanahnya di jajah. Karena Turkey dan Malaysia adalah negara yang rakyatnya begitu antusias mendukung perjuangan negara negara tersebut.
Jika kita melihat kedepan. Jelas kemenangan ini membangun optimisme bagi negara negara muslim di dunia. Bayangkan, belakangan ini, masyarakat muslim dunia terus di citrakan seolah seolah muslim hanyalah perusak, hanyalah orang orang terbelakang. Pun begitu, ketika negara negara Islam di jajah, di hancurkan tidak sedikit Negera negara muslim
hanya diam menjadi penonton. Karena mereka pun merasa kecil, merasa kerdil. Dan bisa jadi merasa takut. Jika suatu saat negri mereka yang di jatuhkan seperti Palestina dan Suriah.
hanya diam menjadi penonton. Karena mereka pun merasa kecil, merasa kerdil. Dan bisa jadi merasa takut. Jika suatu saat negri mereka yang di jatuhkan seperti Palestina dan Suriah.
Dan masyarakat muslim dunia sebenrnya masih menunggu, untuk melengkapi "3 LION" tersebut. Siapakah ia? Jelas, yang di tunggu adalah INDONESIA!. Negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia. Yang begitu di harapkan masa depannya untuk meraih kejayaan Islam di muka bumi ini.
Maka dengan itu, "3 LION" yang melambangkan kemenangan, keadilan, dan keberanian harus terwujud. Untuk bisa melengkapi kekuatan di antara 2 singa. Karena kemenangan 3 pemimpin muslim ini akan sangat merubah wajah Islam di hadapan dunia. Awal baru untuk memukul mundur islamophobia.
#2019GantiPresiden bukanlah sembarang gerakan. Indonesia bukan sekedar membutuhkan pemimpin yang lucu dan sederhana. Saat ini, Indonesia sedang di harapkan bukan sekedar oleh masyarakat Indonesia nya saja. Tapi masyarakat muslim dunia menunggu. Menunggu lahirnya 3 LION untuk memimpin kejayaan Islam di muka bumi ini.
Kita butuh pemimpin baru, yang tegas, cerdas, gagah perkasa dan siap membela Islam dan kejayaannya.
Bantu wujudkan 3 LION itu dengan 3 tahapan :
1. Pilih gubernur dan wakil gubernur / walikota / bupati yang siap membela Islam.
2. Pilih caleg yang bersih, jujur, dan siap membela ISLAM
3. Pilih PRESIDEN yang siap membawa Indonesia menuju peradaban dunia. Dengan membawa peradaban dan kejayaan ISLAM.
Jangan pernah bicara toleransi! Karena sejak dulu ketika Islam memimpin semua agama, ras, dan suku akan terlindungi. Karena Islam adalah rahmatan Lil 'alamin
Kita wujudkan "3 LION " untuk menuju peradaban Islam!
MALAYSIA - TURKEY - INDONESIA
Allahuakbar!!
Minggu, 01 Juli 2018
Mengapa Cebonger Sangat Setia ? Ternyata Ini Sebabnya
di mana harga makanan minuman akan merangkak naik
maka sebaiknya nastaiker cebonger segera siapkan stok air cucian kaki mak memeg secukupnya
dan jangan lupa juga untuk stok beras sachetan untuk menghadapi masa2 sulit di masa mendatang
Sri Mulyani Percepat Kejatuhan Pemerintahan Jokowi
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono menegaskan kalau pernyataan SMI itu sebagai upaya untuk memanipulasi fakta bahwa perekonomian Indonesia sudah di ambang krisis.
"Banyak pencitraannya, menyembunyikan kebenarannya. Kemudian manipulasi fakta-fakta terus," tegasnya saat ditemui di Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta Pusat, Jumat (29/6).
Sebelumnya, Menkeu SMI memang menyatakan kalau nilai tukar rupiah yang kian merosot akibat dari faktor eksternal maupun internal. Namun pemerintah katanya terus berupaya mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi pelemahan kurs rupiah.
Menurut SMI, selama kurs rupiah masih mencerminkan fundamental dan tidak mengubah kekuatan ekonomi atau tidak bergerak jauh dari faktor positif maka hal itu merupakan sebuah penyesuaian yang sangat biasa alias normal.
Diketahui, saat SMI mengeluarkan pernyataan itu rupiah sudah menyentuh angka Rp 14.328 per dollar AS. Terkini nilai tukar mata uang dalam negeri sudah mencapai lebih dari Rp14.400.
"Masa pernyataan Menkeu menyatakan bahwa itu merupakan indikasi untuk ke penyesuaian yang baru. Penyesuaian yang baru itu setahu saya kemarin diinformasikan dari Istana 16.000, coba? Padahal ini menurut saya pelemahan rupiah yang diakibatkan memang karena fundamen kita sudah hancur. Terus kemudian kalau disampaikan kepada masyarakat bahwa ini sebenarnya normal kan jadi aneh," ketusnya.
Padahal, lanjut anak buah Prabowo Subianto ini, dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar sebesar Rp 14 ribu saja pelaku-pelaku usaha yang menggunakan bahan baku utama maupun bahan baku penolong impor, itu semua sudah tak bisa lagi menjalankan usahanya.
"Terus suruh Rp 16 ribu lagi. Ini mau suruh, Pak Presiden Joko Widodo aja yang suruh bunuh diri, jangan rakyat (yang dikorbankan)," sungut Ferry.

Perlu diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dollar yang Rp 14.400-san sesungguhnya sudah mendekati nilai kurs rupiah pada saat krisis tahun 1998 lalu yang mencapai Rp.15 ribu.
Dipertegas soal akan terjadi krisis ekonomi serupa jika pemerintah tak mampu membendung melemahnya rupiah, Ferry mengiyakan. Bahkan kata dia krisis ekonomi kali ini akan lebih para dengan krisis ekonomi yang menyebabkan tumbangnya pemerintahan Orde Baru lalu.
Pasalnya, saat ini, pelaku usaha kecil, menengah dan koperasi yang sebenarnya merupakan fondasi ekonomi bangsa sudah hancur sejak lama.
"Makanya sekarang kalau krisis nggak ada lagi benteng perekonomian terakhir, buffer-nya udah nggak ada. Ya (akan lebih parah) karena nggak ada fondasinya yang menyanggah perekonomian secara nasional. Saya kira Bu Sri Mulyani mempercepat Pak Jokowi jatuh. Bahasanya begitu kali," pungkasnya. [fiq]
Sabtu, 30 Juni 2018
Apa Kata Pakar Tenteng Pilpres 2019 ???
Oleh: Dr. Mardani Ali Sera
Pertama saya ingin menegaskan bahwa adalah sah bagi kita untuk meneliti, menganalisa dan membuat penilaian bagi para calon pemimpin negara kita.
Adalah sah juga bagi kita untuk membuat kajian bahwa calon pemimpin negara “yang ini berkualitas” dan “yang lain tidak berkualitas”.
Karena memang pada hakikatnya, demokrasi memberikan kedaulatan tertinggi ada pada rakyat yaitu para pemilihnya
Dan saat saya buat tulisan dengan judul Cara Mengalahkan Pak Jokowi juga adalah sah dan legal. Karena memang per lima tahun kita semua diberi kesempatan untuk menilai apakah pilihan kita di Pemilu 2014 lalu sudah benar atau perlu dikoreksi.
Kemudian, saya ingin menegaskan, bahwa artikel ini dan hampir semua gagasan saya, terutama #2019GantiPresiden, tidak ada hubungan antara like and dislike secara personal.
Saya sering mengatakan Pak Jokowi adalah orang baik. Anak anaknya berusaha sendiri membangun bisnis tanpa dikaitkan dengan jabatan ayahnya. Menikahkan anak di gedung milik sendiri, tidak di istana atau hotel bintang lima..dst..dst.
Bahkan bagi sebagian kawan di PKS, saya awalnya dikenal sebagai Jokowi lovers karena memang fenomena kemunculannya yang sederhana dan merakyat menyihir banyak pihak.
Jadi ini tidak ada kaitannya pak Jokowi sebagai personal. Ini tentang nakhoda bangsa besar ini yang kian hari kian mengkhawatirkan. Ini tentang memenangkan kebutuhan, kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.
Bagi saya kesimpulannya jelas #2019GantiPresiden. Saya sudah menjelaskan sedikit alasannya di hashtag #IstanaPasirJokowi. Saya akan membahas episode selanjutnya Cara Mengalahkan Pak Jokowi.
Pertama, secara elektabilitas hingga hari ini Pak Jokowi ada di kisaran 40-45% sedikit ada yang dibawah sebagian juga ada yg di atas. Memang tingkat kepuasan publiknya mendekati 70%.
Berdasarkan pengalaman menjadi Ketua Tim Pemenangan Anies Sandi, kami dengan izin Allah SWT dan dukungan para Habaib dan Ulama dapat mengalahkan pak Ahok yang secara umum posisinya hampir sama.
Selalu ada peluang Jalut dapat mengalahkan Thalut, David dapat menumbangkan Goliat.
Kisah Donald Trump yang selalu jauh tertinggal dari berbagai survei di Pilpres AS tahun 2016 akhirnya mampu mengalahkan Hillary Clinton.
Tahun 2008, PKS dengan Kang Aher-Dede Yusuf juga membalikkan semua ramalan ketika mampu memenangkan Pilkada Jawa Barat mengalah nama nama beken seperti Dani Setiawan dan Pak Agum Gumelar.
Karena itu, ada adagium Only the dumb people, hanya orang bodoh yg merasa menang sebelum pemilu dilaksanakan.
Jadi, cara pertama mengalahkan Pak Jokowi adalah dengan mengubah mind set kita bahwa pak Jokowi seng ada lawan, pak Jokowi yg paling tinggi elektabilitasnya.
Masalahnya sekarang siapa Cawapresnya? Ini adalah logika sesat yang dibangun untuk membuat lawan-lawan Pak Jokowi tidak berani maju. Dan sebagian memang termakan.
Beberapa partai jangankan mengajukan capres tandingan. Mengajukan Cawaprespun tidak berani. Saya ingin menegaskan, Pak Jokowi dapat dikalahkan.
Kedua, jika kita lihat peta pemilih pak Jokowi di 2014 secara kasar dapat dikatakan di basis daerah umat Islam kuat seperti Jawa Barat, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat pak Jokowi dapat dikalahkan.
Dan alhamdulillah dengan izin Allah SWT dan kerja keras orang-orang ikhlas berjuang karena Allah, tanpa kenal lelah tanpa kenal waktu, gelombang keummatan ini kian menguat.
Aksi 212 tidak pernah ada dalam sejarah. Pengajian yang diasuh para Ustaz seperti Ustaz Abdul Shomad, Ust az Arifin Ilham, Ustaz Habib Haikal dan lain lain selalu penuh.
Kawan-kawan Ormas Islam seperti FPI, Dewan Dakwah, PUI dan lain-lain terus membina umat. Belum lagi suasana religiusitas yang kian mengental, fenomena hijab, fenomena KitaMart atau 212 Mart hingga kemunculan para pengusaha kecil yang memiliki semangat keislaman tinggi insya Allah membuat kekuatan umat Islam kian membesar.
Apalagi umat masih merasa ada kriminalisasi ulama, serangan pada para dai hingga masih timpangnya pembangunan yang terkonfirmasi dari rasio gini yang masih 0.38 semuanya menjadi modal utama Pak Jokowi dapat dikalahkan.
Ketiga, prestasi pemerintah yg memang masih jauh dari janji-janjinya sendiri. Target pertumbuhan ekonomi 7% yang terjadi konstan di kisaran 5% selama tiga tahun. Hutang luar negeri yang meroket mendekati 4000 trilyun hingga kesejahteraan petani, nelayan, buruh dan UMKM yang dirasakan kian berat.
Belum lagi jika kita bedah slogan Revolusi Mental yang mestinya menjadi fokus pemerintahan Jokowi kenyataannya jauh panggang dari api. Budaya antri belum terwujud, budaya berkendaraan yang rapi tidak ada perubahan, kali yang masih banyak dipenuhi sampah menunjukkan bahwa Revolusi Mental tidak terwujud.
Lagi lagi saya sedikit mendetaikan ini dalam #IstanaPasirJokowi. Saya tidak komen tentang deindustrialisasi yang terjadi selama tiga tahun terakhir hingga dolar yang terus melemah.
Dengan prestasi ekonomi dan janji-janji yang tidak dipenuhi padahal Pak Jokowi memiliki anggaran ribuan trilyun, pasukan kerja dari mulai PNS hingga aparat mencapai 4 juta orang lebih, tegas dikatakan Pak Jokowi tidak mendapat nilai memuaskan. Karena itu, pak Jokowi sangat bisa dikalahkan.
Jadi, insya Allah dengan kerja tekun, persatuan umat yang kokoh hingga strategi elektoral yang tepat insya Allah slogan #2019GantiPresiden dapat kita wujudkan.
Dan kita akan melakukannya dengan konstitusional, sesuai aturan yang berlaku dan dengan penuh elegan pada Pilpres 2019 pada hari Rabu 17 April.
Ayo kencangkan ikat pinggang, satukan barisan, cintai bangsa dan negeri ini dengan tulus dan yang utama selalu mendekat pada Allah Swt karena rumusnya jelas “Wamannashru illa min indillah” bahwa Kemenangan itu dari sisi Allah SWT. Dan akan diberikan pada siapa Dia kehendaki. #2019GantiPresiden
Ternyata Ini Yang Melatar Belakangi Soal Perlunya Ganti Presiden 2019
Apa alasan-alasan obyektif yang membuat kita merasa perlu (harus) mengganti seorang Presiden dalam Pilpres berikutnya? Untuk menjawab ini, orang biasa menyebutkan:
1. Adanya gap yang terlalu curam antara janji pada saat kampanye dengan realitas yang dilakukan selama menjabat; atau
2. Ada sebuah kondisi objektif dimana secara kuantitatif maupun kualitatif menunjukkan adanya situasi yang penuh dengan kekecewaan dan penderitaan rakyat secara jamak (mayoritas dan masif); dan Presiden tidak mampu mengatasinya.
Mungkin masih banyak lagi alat ukur yang dipandang “objektif” dalam menilai kinerja seorang Presiden. Namun, pertanyaan yang lebih filosofis adalah: apakah untuk mengganti seorang Presiden harus menggunakan alasan-alasan objektif? Hal ini senada pula dengan pertanyaan: apakah kritik harus objektif?
Sebagai ilustrasi. Misalnya anda adalah seorang karyawan perusahaan. Taruhlah perusahaan tersebut sudah sangat established dengan sistem yang mapan. Gaji rata-rata karyawan juga di atas rata-rata. Secara objektif, mayoritas karyawan merasa betah dan puas bekerja di perusahaan tersebut.
Namun, ada satu faktor yang membuat anda tidak suka bekerja di perusahaan tersebut, yakni budaya perusahaan sangat feodal dan hierarkis, sehingga anda tidak bebas memberikan kritik kepada manajemen. Karena alasan “subjektif” tersebut, anda keluar (resign).

Intinya, jika anda sedang menghadapi sesuatu, ada memiliki (setidaknya) 3 pilihan, yakni: stay (tetap bertahan), exit atau migrate (keluar atau berpindah ke pilihan lain), dan voice (hanya bisa ngomel tapi tidak punya pilihan lain atau tidak berani untuk keluar atau pindah). Apapun yang akan anda pilih, ketiga pilihan tersebut ditentukan oleh “subjektivitas” anda.
Sampai disini, apakah anda masih berfikir bahwa alasan untuk mengganti seorang presiden harus objektif? Apakah alasan untuk mencari alternatif lain (baru) harus objektif? Bukankah di dalam bilik suara hanya ada anda dan Tuhan yang menyaksikan anda?
Alasan “subjektif” bisa dimulai dari diri anda sendiri. Bisa dari apa yang anda rasakan secara personal, atau apa yang anda ketahui. Anda mungkin perlu tahu berapa PDB negara kita, berapa rasio gininya, berapa pendapatan per kapita kita, berapa hutang kita, dan seterusnya.
Anda juga mungkin perlu tahu bagaimana willingness Presiden dalam mensejahterakan rakyat, bagaimana komitmennya dalam penegakan hukum, dalam menciptakan keadilan sosial, dalam meningkatkan sumber daya manusia, dan seterusnya.
Namun, apakah semua rakyat Indonesia harus mengetahui semua itu? Sementara ada puluhan kementerian dan lembaga yang juga bisa dimasukan sebagai bahan penilaian anda terhadap kinerja Presiden dan pemerintahannya. Padahal, untuk mengganti seorang Presiden, terkadang hanya karena satu sebab: harga BBM naik.
Saya tidak menyarankan anda untuk mengumpulkan semua data yang ada, agar anda ingin dinilai sebagai “rakyat yang objektif”. Anda cukup rasakan saja apa yang sudah dan sedang anda alami, apakah “better” atau “worse”? Kita harus sadar, bahwa sejatinya alasan untuk mengganti posisi sekelas Presiden itu sangat mudah dan sederhana. Karena kita rakyat. Kita pemilih. Kita penentu.
Kenapa 2019 Harus Ganti Presiden
INILAHCOM, Jakarta - Inisiator Gerakan #2019GantiPresiden,Mardani Ali Seramengaku tidak alergi dengan apa yang sudah Presiden Joko Widodo (Jokowi) lakukan selama masa kepemimpinannya.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera ini kemudian bicara mengenai lima sila di Pancasila. Pada sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan begitu dia menyatakan tahun depan harus ganti presiden. "Karena kalau rezim atau pemimpin tidak ada yang berani untuk memberikan koreksi maka akan terjadi tirani. Maka kami akan katakan 2019 ganti presiden karena kami yakin kami benar dan punya hak untuk menyatakan hal itu," kata dia. Sila kedua yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Mardani ingin pemimpin Indonesia berikutnya mampu mensejahterakan rakyatnya. Ketiga adalah persatuan Indonesia, dia ingin bangsa Indonesia bersatu dan tidak terbelah. "Keempat kita ingin pemerintah yang menghargai musyawarah, bukan pemerintah yang membungkam perbedaan pendapat," kata Mardani. Kemudian yang kelima adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. "Sudah terlalu lama negeri ini menunggu pemimpin yang mampu mewujudkan keadilan sosial. Karena itu dengan segala hal kami bertekad 2019 Ganti Presiden," kata Mardani.[van].
Dia menyebut, keinginan mengganti presiden, adalah untuk tujuan yang lebih baik dan kemajuan bangsa yang lebih besar. Bukan mempertajam perbedaan. "Pak Jokowi sudah bekerja keras, baik nilainya. Tapi kami ingin yang lebih baik, lebih mampu membawa Indonesia mengahadapi tantangan zaman, karena itu 2019GantiPresiden," kata Mardani di area luar Monas, Jakarta Pusat, Minggu (6/5/2018).
Langganan:
Postingan (Atom)







